Tuesday, November 17, 2009

ASA



Sekian lama kita mencoba

Memahami arti kata cinta

Walau rintangan selalu datang danpergi

Tak mampu pudarkan asa kita

Terasa curam jalan yang kan kita lewati

Mengapa begitu banyak kerikil tajam yang kan merobek

Rajutan benang kasih

Namun asa ini masih tersimpul erat

Kucoba mencari artimu

Dalam kegelapan kutemukan bayangmu

Kuraih...lalu kedekap

Hingga ku terlena

Wednesday, November 11, 2009

JADILAH PELITA


Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya.Sang
sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak
berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa
pulang kok."
Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu,
biar mereka tidak menabrakmu."
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.
Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam
kagetnya, ia mengomel, "Hei,kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta
dong!"
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta
bertambah marah, "Apa kamubuta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini
supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang
buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!"
Si buta tertegun.... Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh,
maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang
buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas
kata-kata kasar saya."
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si
buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta
kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun,
"Maaf, apakah pelita saya padam?"
Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama."
Senyap sejenak... secara berbarengan mereka bertanya,
"Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya...,"
sembari meledak dalam tawa.
Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang
berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja
ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun
berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran
dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya
bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat
jalan mereka."
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti
menjalankan kebijaksanaan dalam hidup.
Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain
dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin,
keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang
lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya
sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui
peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati
karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain.
Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran,
yang kurang peduli. Kadang,mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka
bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang
sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka
bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta,
sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita.
Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat
pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya
untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. Orang
terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya
memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah apakah
nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam?
JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah
berusia 25 abad mengatakan:
Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama
tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Wednesday, November 4, 2009

MAAF



M-A-A-F.

Empat huruf yang bisa berarti banyak dan sangat dalam. Orang meminta maaf bila merasa berbuat salah. Mengatakan maaf dan berharap agar kesalahan yang dia perbuat di lupakan atau dimaklumi dengan empat huruf tersebut. Berharap agar kekhilafan yang dia perbuat lebur dengan empat huruf itu. Namun pernahkah terfikir, maaf saja cukup buat menghapus semua salah dan khilaf yang telah dilakukan? Apa guna kata maaf kalau kesalahan dan kekhilafan yang kita mintakan maaf itu terus kita ulang dan kita perbuat lagi esok dan kelak. Apa guna kata maaf bila maaf itu cuma sekedar 'maaf' tanpa ada keinginan untuk memperbaiki diri atau menyesali kesalahan yang telah terjadi. Maaf hanya jadi sekedar simbol. Hanya sekedar menjadi suatu kebiasaan. Bila salah harus minta maaf. Namun arti dari maaf itu sendiri sirna.
Kebalikannya, bila kita memberi maaf maka harus tulus. Maaf yang tulus itu harus dari hati yang paling dalam. Dalam artian kita tulus memaafkan dan tidak mengingat atau mendendam kembali kesalahan yang telah dimintakan maaf orang kepada kita. Bukan sekedar maaf di bibir saja. Bibir memberi maaf, tapi hati masih tak ridho. Hanya sekedar keharusan memberi maaf agar tidak dicap sebagai pendendam. Jika begitu lalu apa guna memberi maaf?
Kata maaf hanya jadi sekedar simbol belaka. Hanya suatu hal yang harus diucapkan dan dilakukan bila melakukan kesalahan. dan org yang telah dirugikan atau disalahi harus memberi maaf. Wah, kok jadi kaya semacam timbal balik saja ya?
Lalu seharusnya maaf seperti apa dan memberi maaf yang seperti apa seharusnya? Jika meminta maaf mintalah dari dasar hati yang paling dalam dengan penyesalan dan keinginan untuk memperbaiki diri dan janji sebisa mungkin dalam hati untuk tidak akan mengulang lagi kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Demikian pula untuk yang memberi maaf. Harus tulus dari dasar hati. Maaf yang diberikan tidak menyisakan lagi dendam dan kebencian. Itu hakikat 'maaf' yang benar kali yah...
Btw.. tau ngga? Berdasarkan survey, ternyata kaum wanita itu lebih mudah memaafkan tapi tidak mudah melupakan kesalahan. Sementara kaum lelaki lebih susah untuk memaafkan tapi lebih mudah untuk melupakan kesalahan. Dengan kata lain, wanita lebih mudah memberikan maaf untuk sebuah kesalahan tapi butuh waktu yang lama (atau bahkan ngga akan pernah) untuk melupakan kesalahan yang telah dia berikan maaf itu. Jadi kayanya kalau berantem wanita pasti suka ngungkit2 kesalahan lama dari pasangannya :P. Sementara pria lebih susah untuk memaafkan, tapi sekali memaafkan dia ngga akan pernah mengungkit2 lagi kesalahan yang sudah dia maafkan itu. Jadi kayanya bener deh kalo cewe yang salah pasti cowonya ngambeknya lebih lama atau bahkan ngga memaafkan (putus gitu loh :P) karena pada dasarnya mereka memang lebih susah untuk memaafkan suatu kesalahan. tapi kalo lagi berantem atau selisih pendapat jarang banget mengungkit2 kesalahan yang telah lalu.
Bener ngga sih? Bener deh kayanya...hihihihi
^_^

Friday, October 30, 2009

YOUR CALL (SECONDHAND SERENADE)

This is my fave song for this year and may be for last forever. This song remind me for the moment when I first time meet my lovely one. Someone who makes me fallin love in rush. Someone who makes me believe and know to the think called 'love'. Someone who makes my heart health after hurting so. But also someone who makes me feel so confuse and sad in the beginning. But anyway we're in love and hope this will be last forever.
I love you so, honey...

Thursday, October 29, 2009

@ SUM WANITA = LELAKI ??



Kemaren teh V baca2 majalah, ga sengaja Ve liad satu kolom kaya hot news gitu. Katanya menurut statistik, penduduk di Indonesia th 2006 adalah 222.052.300 orang. Dari jumlah tsb. penduduk laki-laki 111.208.500 sedangkan penduduk wanita sebesar 110.842.800. Hah...Masa sih? Sempet ga percaya V sampai sempet browsing di internet, ech ternyata data itu bener. Wow...tus kata siapa wanita jumlahnya tiga kali lipat dibanding laki2? xixixiix..itu data statistik dunia atau data yang udah ga up to date kali yah??
Suatu hal yang menurut Ve cukup mengejutkan, mengingat selama ini kita seolah dicekoki dengan anggapan bahwa jumlah wanita itu lebih banyak, ga tanggung2 lagi banyaknya 3 kali jumlah laki2. Sampai2 sempet timbul anggapan bahwa lelaki itu mahluk yang eksklusif karena jumlahnya terbatas. Halah..bahasanya..xixixix..maaf ya buat para cowo yang baca.
Sampai2 selama ini sepertinya para cowo berbuat rada semena2 pada cewe karena ngerasa bahwa jumlah mereka sedikit. Ini kali yah yang jadi alasan kenapa banyak cowo yang suka selingkuh ( cewe juga ada sih, tp banyakan cowo deh :P). Dulu ada teman Vyang hobi banget selingkuh, tiap V tanya dengan entengnya dia ngejawab : " Wah...gw kan cuma menolong para cewe aja biar adil. Lo bayangin deh, jumlah cewe kan 3 kali lebih banyak dr jumlah cowo, nah kan ga mungkin para cewe dapat pasangan satu2 karena jumlahnya lebih banyak. Daripada ga pernah sama sekali ngerasain yang namanya kasih sayang kan mendingan gw tolongin para cewe itu dengan membantu mereka memberi kasih sayang walau cuma dalam waktu yang ga lama.."
Busyetttt..lelakii buaya darat...xixixixix..jawaban khas dari aligator dew...hihihi..Statement itu dipakai buat membenarkan hobinya berselingkuh...parah ih...Tapi Ve ga bisa nyalahin sih. Semua itu sebenarnya kan tergantung orangnya masing2. Kalau hobinya emang selingkuh ya biar gimanapun juga tetep aja doyan selingkuh. Iyah ngga?
Balik lagi ke soal angka statistik tadi, mungkin ini pula yang menyebabkan kenapa banyak lelaki yang berpoligami. karena adanya anggapan bahwa wanita itu jumlahnya lebih banyak dari lelaki. Selain tentu saja karena adanya pembenaran dalam agama, dalam hal ini menurut V kayanya adalah Sunah Rasul yang di salahartikan deh. Abisnya dulu kan Rasul berpoligami itu buat menolong para janda2 perang yang miskin biar ga terlantar. Kalau sekarang mah ada poligami kaya gitu? Poligami sekarang kebanyakan cuma karena pengen mendapat istri yang 'lebih' atau paling ngga yang 'lain' dari istri pertamanya. Apa dong itu? Nafsu dong yah...Ini sih pendapat V pribadi lohhhhh.... :P. V sendiri sih ga nyalahin para lelaki yang berpoligami, itu mah terserah mereka hak mereka. Cuma kalau V pribadi..no way dehhh dipoligami.... :P
Nah, sekarang setelah tahu hal seperti ini, kayanya para cewe ga perlu ketakutan ga kebagian pria yang bakal jadi pasangan hidupnya. Karena ternyata jumlah wanita di indonesia lebih banyak dari lelaki kan? Tinggal gimana kitanya aja atuh yah..namanya jodoh, rejeki, dan maut itu rahasia Allah. Semua Dia yang mengatur. Tapi kita juga harus berikhtiar. Iya ngga?
halah meuni serius gini...xixixixix..
Have a nice day...
^_^